Rabu, 17 Agustus 2011

Salat Menjaga Orbit Spiritual

Berbeda dari perintah puasa, zakat dan haji, perintah shalat wajib dilaksanakan setiap hari sebanyak lima waktu. Belum lagi berbagai anjuran shalat sunnah seperti halnya tarawih di bulan Ramadhan.

Beberapa teman non-muslim sering berkomentar, menjadi orang muslim itu berat, terutama melaksanakan perintah shalat setiap harinya. Mengapa tidak cukup berdoa saja ? Begitulah tanpa dilandasi iman, kesadaran dan disiplin tinggi, sungguh berat menjaga kontinuitas shalat.

Tetapi jika kita amati, kalaupun seseorang enggan menjaga konsisteni shalat lima waktu, hidup inipun selalu terikat dengan ritual keduniaan yang rutin. Sejak dari mandi, berpakaian, sarapan pagi, membaca koran, nonton televisi, menelepon teman dan sekian ritual keduniaan lain yang juga memakan waktu sebagaimana salat.

Belum lagi ritual mingguan, bulanan dan tahunan, selalu saja manusia kreatif menciptakan dan menjaganya, misalnya pesta ulang tahun kelahiran. Jadi kalau alasan enggan shalat karena waktu, sesungguhnya kurang logis karena sebagai contoh untuk melaksanakan salat Isya kurang dari sepuluh menit. Soal tempat pun cukup fleksibel.

Satu di antara dampak positif dari shalat adalah seseorang selalu diingatkan dan terikat pada pusat orbit Ilahi. Bayangkan saja, ibarat sebuah pesawat terbang yang menjelajahi ruang angkasa, sang pilot mesti taat pada garis orbitnya agar tidak tersesat dan kehilangan arah.

Begitu pula dalam hidup ini, dari bangun pagi sampai malam hendak tidur, kita bertemu dengan berbagai macam orang, situasi, serta godaan yang potensial menjauhkan diri kita dari orbit kebenaran. Maka idealnya dengan shalat seseorang kembali ke orbit yang benar dan berkonsultasi pada Allah SWT. menyampaikan laporan rasa syukur, mohon kekuatan serta bimbingan.

Lewat shalat diharapkan terjaga keseimbangan hidup untuk meraih kebaikan jasmani maupun rohani.

Dengan menjaga shalat yang benar seseorang diharapkan peka dan setia pada rambu-rambu kehidupan yang telah diajarkan para Rasul Allah SWT, ibarat pengembara yang selalu memperhatikan lampu lalu lintas serta arah jalan.

Melalui shalat seorang hamba melakukan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. tanpa perantara untuk menyampaikan semua sanjungan, syukur, maupun keluh kesahnya.

Shalat juga sebuah pengakuan penghambaan manusia di hadapan Tuhannya, pengakuan kelemahan dan tidak keberdayaannya manusia dihadapan-Nya.

Inna Shalatii Wanusuki Wamahyaaya Wamamaati Lillahi Rabbil 'Aalamiina, Bahwa salatku dan totalitas hidupku dipersembahkan hanya pada Allah SWT. Shalat juga mengajarkan kesabaran, kekhusyukan dan fokus atau istiqomah.

0 komentar:

Posting Komentar