Sabtu, 05 November 2011

Yakin (Moral) Anda Bersih?

Seseorang yang berpikir (baca: menyangka) dirinya bersih sesungguhnya tidak bersih, adalah keniscayaan yang sulit untuk diterima. Pahit. Demikian halnya dengan moral.

Berbicara kebersihan dan moral, saya selalu teringat pada sebuah buku psikologi yang saya lupa judulnya (karena sudah sangat lama). Walaupun tidak memiliki latar belakang ilmu psikologi, tetapi saya sangat menyukai buku tersebut, karena membahas berbagai perilaku manusia yang sering saya temui sehari-hari. Kaya dengan berbagai contoh kasus.

Salah satu kasus yang masih saya ingat dengan jelas adalah tentang seorang anak remaja (laki-laki) yang menyadari dirinya sedang sakit secara psikis. Dia selalu ingin cuci tangan yang frekwensinya tidak normal—15 sampai 20 kali dalam sehari, hingga akhirnya depresi.

Orang tua remaja tersebut akhirnya memutuskan untuk mengajak si anak terapi pada seorang psikiater untuk mengetahui apakah keinginan mencuci tangan tersebut normal atau tidak.

Pada saat dilakukan hypnotherapy (terapi denga cara hipnotis), dari bawah sadarnya si anak remaja mengakui bahwa dirinya sering melakukan onani. Dari pengakuan tersebut psikiater menyimpulkan bahwa keinginan mencuci tangan yang berlebihan tersebut didorong oleh rasa jijik (timbul dari alam bawah sadar) akibat seringnya melakukan onani.

Tadi pagi saya sempat membaca sebuah tulisan di The Economist berjudul “Cleanliness is Next to Godlessness”. Dari judulnya saja sudah sangat menarik. Tagline-nya malah lebih menarik lagi, “Soaping away your outer dirt may lead to inner evil“. Menarik bukan?

Dalam tulisan tersebut diceritakan tentang percobaan-percobaan yang dilakukan oleh Dr. Simone Schnall dari University of Cambridge (sebelumnya di Plymouth University), Inggris, sehubungan dengan kebersihan diri dan kaitannya dengan kebersihan moral.

Pada penelitian-penelitian sebelumnya, Dr Schnall menemukan bahwa ketika seseorang merasa dirinya (secara psikologis) kotor, dia akan cenderung lebih menolak perilaku yang tidak bersih (tidak bermoral). Demikian sebaliknya.

Doktor sosiologi dan psikologi tersebut berspekulasi bahwa penyebab perilaku itu adalah kesadaran akan moral diri yang tidak bersih yang kemudian mendorong keinginan untuk memperbaikinya. Peneliti juga mengetahui bahwa semua agama menganjurkan kepada pengikutnya untuk selalu menjaga kebersihan fisik sebagai wujud dari kebersihan moral.

Terinsiprasi oleh penemuan tersebut, Dr. Schnall lalu melakukan penelitian lebih lanjut.

Pada penelitian berikutnya, dia melakukan percobaan terhadap 40 orang relawan. Setengahnya, diberikan kalimat-kalimat yang mengandung kata-kata yang berhubungan dengan kesucian dan kebersihan, misalnya: cuci, bersih, tak bernoda, suci, dan murni. Sedangkan yang setengahnya lagi diberikan kata-kata yang netral.

Selanjutnya, relawan disuruh menilai serangkian perilaku terkait dengan bermoral dan tak bermoral. Mulai dari perilaku: mengambil uang dari dompet yang ditemukan ditengah jalan, memakan hewan peliharaan keluarga (pet) untuk mengatasi kelaparan, hingga bersenggama dengan kucing untuk melampiaskan nafsu sex.

Angka penilaian dimulai dari 0 (nol) jika perilaku tersebut dianggap sangat bermoral, sampai dengan 9 (sembilan) jika perilaku tersebut dianggap sangat tidak bermoral.

Percobaan selanjutnya dilakukan terhadap 44 orang relawan. Relawan diajak menonton video klip berdurasi tiga menit dari film “Trainspotting” yang sudah terkenal mampu membangkitkan kesadaran akan diri yang bermoral kotor.

Selanjutnya kelompok relawan kedua ini juga disuruh untuk menilai perilaku bermoral dan tak bermoral, sama persis seperti kelompok sebelumnya.

Namun, sebelum melakukan penilaian, relawan diberitahu bahwa tempat dimana penilian akan dilakukan adalah ruangan yang steril, jadi harus dijaga kebersihannya. Untuk itu relawan dipersilahkan untuk mencuci tangannya dengan sabun sebelum memasuki ruangan. Memang, tidak semua relawan mencuci tangan sebelum memasuki ruangan.

Dan, hasilnya?

Dibandingkan mereka yang tidak, mereka yang diberikan kata-kata bersih-suci-murni, dan mereka yang mencuci tangannya sebelum memasuki ruangan tenyata lebih bisa menerima perilaku tak bermoral dibandingkan yang bermoral:

Mereka yang diberi kata-kata bersih-suci-murni memberikan penilain 5.7 kepada perilaku memakan hewan peliharaan keluarga. Sementara relawan lain memberi penilaian 6.6

Mereka yang diberi kata-kata bersih-suci-murni memberikan penilaian 6.7 kepada perilaku bersenggama dengan anak kucing untuk melampiaskan nafsu sex. Sedangkan relawan lain memberi penilaian 8.3.

Hasil serupa juga terjadi pada kelompok relawan yang mencuci tangannya sebelum memasuki ruangan penilaian.

Hasil penelitian ini memang terdengar pahit dan mungkin sulit diterima oleh sebagian besar dari kita. Sama pahitnya dan sama sulitnya ketika kita harus menerima keniscayaan bahwa orang yang merasa dirinya bersih biasanya tidak bersih.

Terlepas dari hasil penelitian tersebut, bagi saya pribadi, membersihkan diri secara fisik (mandi, mencuci tangan, mencuci muka, mencuci pakaian, dan lain sebagainya) adalah penting untuk kesehatan. Bagi saya kebersihan fisik dan kebersihan moral adalah dua hal yang berbeda.

Bagimana menurut anda? Apakah sepakat dengan hasil penelitian tersebut?

0 komentar:

Posting Komentar